Memaknai Jejak Sang Datu Muning

Penulis : Eka Sri Tanjung Jaya

 

RANTAU, onlinesinarbarito.com – Malam terasa begitu hening ketika rombongan dari Barito Media Jaya perlahan meninggalkan Komplek Batola Residence, Handil Pinang, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Minggu (14/4/2026).

Dalam gelap yang menggantung di langit, perjalanan itu bukan sekadar langkah menuju sebuah tempat, melainkan sebuah ikhtiar batin menelusuri jejak spiritual yang tersembunyi.

Dipimpin Sulaiman A.S., sapaan akrab M. Jaya rombongan bergerak membelah malam, melewati jalanan sunyi yang seakan membawa mereka menjauh dari hiruk pikuk kehidupan menuju ruang perenungan yang lebih dalam.

Perjalanan panjang itu sempat singgah di Masjid Baitun Nur yang  berada di Desa Sungai Rutas, Kecamatan Candi Laras Selatan, Kabupaten Tapin, Kalsel. Sebuah rumah ibadah sederhana yang menjadi tempat beristirahat sekaligus persinggahan jiwa. Di sana, malam terasa lebih teduh, memberi kesempatan bagi raga untuk memulihkan tenaga sebelum melanjutkan perjalanan menuju tujuan utama.

Saat pagi menyingsing, cahaya fajar membuka jalan baru. Namun perjalanan belum usai. Jalan darat hanya mengantar sampai batas tertentu, sementara jalur sungai menjadi satu-satunya akses untuk mencapai lokasi makam.

Dengan perahu, rombongan menyusuri aliran sungai yang tenang. Setiap riak air seakan menghadirkan kesunyian yang menuntun hati pada perenungan, menjauhkan diri sejenak dari kebisingan dunia.

Setelah melalui perjalanan yang tidak sederhana, tibalah rombongan di sebuah kawasan makam yang berdiri dalam kesahajaan.

Tak ada kemewahan, tak pula keramaian. Hanya suasana tenang yang menyelimuti, menghadirkan kesan spiritual yang begitu kuat.

Di tempat itulah bersemayam Datu Muhammad Ilyas, yang lebih dikenal masyarakat sebagai Datu Muning sosok yang diyakini banyak orang sebagai waliyullah dan disebut memiliki garis keturunan dengan Datu Suban.

Ada hal yang menarik perhatian para peziarah. Di area pusara tersebut, hampir tak terlihat rumput tumbuh sebagaimana lazimnya makam pada umumnya. Sebuah pemandangan sederhana, namun menghadirkan tanda tanya sekaligus kekhusyukan tersendiri bagi siapa pun yang datang.

Penjaga makam menyampaikan bahwa tempat tersebut telah lama menjadi tujuan ziarah masyarakat dari berbagai daerah.

“Sejak dulu banyak orang datang ke sini dengan niat berdoa dan berziarah. Soal kisah detailnya memang tidak semua diketahui, tapi yang terpenting adalah niat baik serta ketulusan hati,” ujarnya.

Bagi rombongan, perjalanan menuju makam ini bukan semata tentang destinasi, melainkan pengalaman batin yang memberi ruang untuk merenung.

Lelahnya perjalanan menghadirkan pelajaran tentang kesabaran. Sunyinya perjalanan membuka kesempatan untuk mendekatkan diri pada doa. Dan keterbatasan akses justru menjadi pengingat bahwa sesuatu yang bernilai sering kali membutuhkan usaha lebih untuk mencapainya.

Makam Datu Muning mungkin tidak mudah dijangkau dan tak banyak dikenal luas. Namun bagi mereka yang pernah menapakkan kaki di sana, tempat itu menyimpan kesan mendalam sebuah perjalanan sunyi yang bukan hanya membawa langkah menuju lokasi, tetapi juga menuntun hati pada makna spiritual yang lebih dalam. (***)