Penulis: Ihsan, Aqmar dan Eka
BANJARBARU, onlinesinarbarito.com – Senja perlahan merayap di langit Kota Banjarbaru, Jumat (10/04/2026) sore.
Angin berembus lembut, seakan mengiringi langkah para insan pers menuju sebuah sudut tenang tempat di mana cerita, pengalaman, dan ilmu bertemu dalam balutan kehangatan.
Perjalanan yang dipimpin Sulaiman Alaihissalam atau yang kerap dipanggil Muhammad Jaya sebagai CEO dari empat perusahaan media onlinekoranbarito.com, onlinesinarbarito.com, suluhbanua.news, dan baritobersinar.news.
Ini bukan kunjungan biasa. Ia menjelma menjadi silaturahmi yang sarat makna, menuju kediaman seorang wartawan senior yang jejaknya telah lama terpatri dalam dunia jurnalistik.
Setelah terkendala macet dan hujan saat melewati kawasan Landasan Ulin, Banjarbaru, dan mobil kami sempat diarahkan google map ke jalan yang tidak layak dilalui, akhirnya kami berhasil juga menemukan rumah sosok yang hendak kami jumpai.
Di sebuah rumah sederhana di Komplek Mekatamaraya 1 Guntung Manggis, Banjarbaru, sosok itu menyambut dengan senyum hangat. Berbalut kaos putih oblong, tampil bersahaja.
Namun dari sorot matanya, terpancar perjalanan panjang penuh warna. Dialah Sandi Firly, seorang wartawan, penulis, sekaligus seniman, yang telah menorehkan jejak melalui karya jurnalistik, cerpen dan novel, kelahiran tanah Seruyan, Kalimantan Tengah.
Kami diajaknya ke rooftop rumahnya yang diteduhi kerindangan cabang-cabang berdaun lebat ketapang kencana dan sebatang pohon mangga.
Di sana ada satu meja kecil dengan dua kursi. Ia segera mengambilkan sejumlah kursi lagi buat kami yang datang berlima.
“Di sini saya lebih fokus bekerja, sekaligus tempat santai,” ujarnya.
Sebelumnya kami juga sempat melihat ruang kerjanya berupa loteng yang dipenuhi buku-buku serta lukisan. Loteng itu sejurus dengan rooftop tempat kami kemudian duduk-duduk santai berbincang.
Ditemani aroma kopi yang diseduhnya sendiri dari moka pot, seakan menghangatkan senja yang baru saja habis dibasuh hujan. Langit kian temaram. Selayaknya kopi yang disesap pelan-pelan, perbincangan dan diskusi mengalir pelan saja, penuh inspirasi, serta menggugah semangat para pegiat jurnalistik muda seperti kami.
Sesekali gelak tawa memecah suasana. Pria yang menamatkan S1 FISIP Komunikasi – Jurusan Komunikasi UNISKA Banjarmasin itu mulai membuka lembaran kisahnya tentang dunia jurnalistik dan kepenulisan kreatif, hingga akhirnya memilih lebih sering berbagi ilmu kepada generasi muda.
Tidak hanya di kota tempat tinggalnya di Banjarbaru, melainkan juga di kota-kota lain di Provinsi Kalsel, bahkan hingga nasional.
“Saya dulu memulai di media Barito Post. Alhamdulillah, perjalanan itu membawa saya sampai di titik sekarang. Saat ini, saya lebih fokus berbagi ilmu jurnalistik kepada para siswa,” tuturnya ringan.
Selanjutnya ia pun sekilas bercerita perjalanan jurnaliktik di Radar Banjarmasin, Radar Bandung, Media Kalimantan, hingga sekarang mengelola media asyikasyik.com yang lebih banyak memuat tulisan sastra, seni, dan budaya.
Sementara perjalanan kepenulisannya di bidang sastra, ia telah melahirkan sejumlah novel, di antaranya Lampau, dan terakhir MAY yang berhasil masuk dalam nomine Sayambara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).
Sejumlah cerpennya kerap menghiasi koran KOMPAS, dan masuk dalam Buku Cerpen Pilihan koran bergengsi ibukota itu.
Tidak ingin menyia-nyiakan momen pertemuan itu, sebagai wartawan pemula kami manfaatkan untuk menimba ilmu lebih dalam, terutama terkait Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang dijadwalkan berlangsung pada akhir April 2026 nanti.
Keberanian pun muncul. Salah satunya dari Eka Sri Tanjung Jaya yang melontarkan pertanyaan tentang mekanisme dan persiapan menghadapi UKW.
Dengan gaya khasnya yang lugas, Sandi sebagai pemegang UKW Utama ini menjelaskan pengalamannya. Dikatakan, bahwa UKW bukan sekadar formalitas, melainkan tempat pembuktian kapasitas diri seorang jurnalis.
“Dasarnya tetap 5W + 1H. Ada tiga jenjang UKW yakni Muda, Madya, dan Utama. Untuk lolos, kalian harus punya kemampuan menulis yang baik. Untuk jenjang Muda, harus memahami penulisan straight news, untuk Madya sudah harus bisa menulis feature, dan Utama mesti memiliki kemampuan managerial keredaksian. Dan yang tidak kalah penting membangun jaringan. Minimal punya kontak narasumber yang bisa diandalkan,” jelasnya tanpa terkesan menggurui.
Nasihat itu sederhana, namun seakan menghunjam. Menjadi wartawan, katanya, bukan saja soal kemampuan merangkai kata, tetapi juga melibatkan kepekaan, relasi, dan integritas.
Senja pun akhirnya luruh, digantikan temaram malam. Lampu-lampu gantung berwarna kuning di rootrof dinyalakan. Suasana terasa semakin syahdu, seperti di kafe yang sadar estetika. Pertemuan memang telah berakhir, namun jejaknya tertinggal dalam ingatan.
“Terima kasih atas ilmu yang dibagikan kepada wartawan muda kami, semoga mereka bisa mengikuti jejak Bang Sandi,” ucap Sulaiman, yang selalu berpeci dari bahan rotan ini, sembari mengulurkan tangan tanda pamitan.
Itulah momen serupa percikan kecil yang menyalakan kembali semangat menghidupkan idealisme yang mungkin sempat redup dalam perjalanan panjang dunia jurnalistik.
Sandi Firly menjadi satu sosok yang hingga kini terus bertahan dan bersetia dalam dunia kewartawanan dan kepenulisan, sekalipun zaman terus berubah, bahkan ketika era koran di mana ia cukup lama berkecimpung di sana, kini kian senyap dan banyak menghilang.
Perbicangan singkat di rooftop rumahnya itu takkan mudah terlupakan. Senja boleh tenggelam, tetapi kenangannya selamanya kan tersimpan. (***)
Sinar Barito Pemersatu Banua