Penulis : (Al-Faqir) Ihsan
TANJUNG, onlinesinarbarito.com -Dingin embun dini hari menyelimuti jalanan Kalimantan Selatan ketika sebuah mobil perlahan membelah sunyi dari Barabai menuju Kelua, Kabupaten Tabalong, Selasa (12/5/2026).
Namun perjalanan itu bukan sekadar perpindahan tempat. Di balik deru mesin dan kabut subuh, tersimpan perjalanan batin yang sarat makna spiritual.
Jarum jam menunjukkan sepertiga akhir malam saat rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Di balik kemudi, Sulaiman A.S., yang akrab disapa M. Jaya, tampak tenggelam dalam renungan panjang seorang musafir yang sedang meniti jalan ruhani.
Lantunan azan Subuh menggema ketika mereka melintas di Kabupaten Balangan.
Rombongan pun singgah sejenak di sebuah warung sederhana. Sepiring lontong dan nasi kuning hangat menjadi pengganjal lapar di tengah perjalanan panjang. Namun bagi mereka, nilai perjalanan itu jauh melampaui sekadar tujuan duniawi. Ada kerinduan jiwa yang sedang dituntun menuju sebuah pertemuan istimewa.
Pagi mulai menampakkan cahaya ketika rombongan berhenti di sebuah masjid untuk beristirahat sambil menunggu rekan kerja dari Kominfo Tabalong yang dijadwalkan menyerahkan cendera mata berupa keripik singkong buatan Sulaiman A.S.
Waktu berjalan cukup lama. Kesabaran pun diuji ketika Sekretaris Kominfo Tabalong belum juga hadir karena agenda Zoom Meeting.Namun penantian itu justru menjadi pelajaran tersendiri.
“Kadang perjalanan bukan tentang cepat sampai, tetapi bagaimana hati belajar sabar di setiap persinggahan,” ujar Sulaiman lirih.
Kesabaran itu akhirnya berbuah manis. Setelah urusan selesai, rombongan kembali melanjutkan perjalanan menuju tujuan utama yang telah lama dinanti.
Di sepanjang jalan, telepon genggam Sulaiman terus berdering. Dari ujung sambungan, seorang ulama sepuh yang telah lama menetap di Makkah tampak berkali-kali menanyakan posisi rombongan. Nada suaranya memancarkan kerinduan seorang guru kepada murid yang lama tak bersua.
“Anakda sudah sampai di mana?” ucap beliau singkat, namun penuh makna.
Sosok yang menanti itu adalah H. Jaryal Ilmi bin KH Bahran Kasim bin Kasim Ibnu Qusin Al-Banjari, seorang tokoh religius yang dikenal luas di lingkungan spiritual dan disebut sebagai anak angkat keluarga kerajaan Arab Saudi.
Bagi Sulaiman, KH. Jaryal bukan sekadar guru biasa. Ia adalah mursyid, pembimbing rohani dalam perjalanan ma’rifat sosok yang diyakini menjaga arah batin muridnya agar tetap istiqamah di jalan Allah.
Menjelang malam, sekitar pukul 19.05 WIB, rombongan akhirnya tiba di Kelua. Setelah beristirahat sejenak, mereka menuju kediaman sang guru. Dari balik pagar rumah, tampak seorang pria yang mengenakan koko putih serta peci warna putih telah berdiri menanti. Wajahnya teduh. Tatapannya hangat.
Seolah pertemuan itu telah lama ditulis dalam takdir.
Lelah perjalanan seakan luruh begitu saja ketika langkah kaki memasuki rumah sederhana penuh cahaya itu. Percakapan mengalir hangat di ruang lantai satu. Tak ada kemewahan, namun suasana dipenuhi ketenangan yang sulit dijelaskan oleh kata-kata.
Sebab ada perjumpaan yang hanya bisa dipahami oleh hati.Di tengah obrolan malam itu, Sulaiman menceritakan pengalaman ganjil yang pernah dialaminya. Suatu malam saat bekerja, ia melihat sosok istrinya berdiri di depan kamar dan meminta dibuatkan teh.
Namun ketika dihampiri, sang istri ternyata sedang tertidur pulas dan mengaku tak pernah keluar kamar.
Keanehan itu semakin terasa ketika terdengar suara dari arah kamar mandi, padahal tak seorang pun berada di dalamnya.
Mendengar kisah tersebut, KH. Jaryal lalu membagikan pengalaman spiritual yang pernah beliau alami. Beberapa bulan lalu, seorang lelaki berpakaian jubah putih serta mengenakan Imamah (surban) datang menawarkan emas dalam jumlah fantastis bernilai miliaran rupiah. Namun di tengah tafakur, beliau mendengar suara lembut dalam hati
“Syukuri saja apa yang sudah ada.”
Kalimat sederhana itu menjadi pelajaran mendalam tentang hakikat kehidupan. Bahwa tidak semua yang tampak indah adalah karunia, dan tidak semua ujian hadir dalam bentuk kesulitan.
Kadang dunia datang membawa gemerlap kemewahan hanya untuk menguji keikhlasan manusia.
Perjalanan panjang itu akhirnya meninggalkan satu pesan besar istiqamah bukan hanya tentang bertahan dalam kesulitan, tetapi juga tentang tetap rendah hati ketika dunia datang menawarkan segala kemewahannya. (***)
Sinar Barito Pemersatu Banua