Penulis : (Al-Faqir) Ihsan
TAMIANG LAYANG, onlinesinarbarito.com – Rintik hujan malam berpadu dengan suara jangkrik dan deru suara mobil yang melintasi jalanan Mungkur Ju’ung, Kecamatan Dusun Timur, Kabupaten Barito Timur, Kamis (14/5/2026) malam.
Di tengah suasana sederhana yang diselimuti udara dingin itu, sekelompok insan media melangkah perlahan menuju sebuah rumah yang menyimpan jejak panjang perjalanan dunia jurnalistik.
Rombongan terdiri dari sejumlah rekan media bersama CEO PT Barito Media Jaya Group , PT Media Jaya Bersinar, PT Suluh Nusantara Jaya dan PT Sinar Borneo Irawan serta beberapa sahabat lainnya. Perjalanan malam itu dipimpin Sulaiman A.S., sosok yang akrab disapa M Jaya.
Tujuan mereka bukan sekadar bertamu. Malam itu menjadi ruang silaturahmi untuk menjenguk wartawan senior Jurnal TV, H. Suriansyah, yang kini lebih banyak beristirahat di rumah akibat penyakit pengapuran tulang yang dideritanya.
Di sela perjalanan, rombongan sempat singgah di sebuah stand sederhana. Hangat wedang jahe dan gorengan menjadi teman obrolan ringan di tengah dinginnya malam. Di tempat itu pula mereka bertemu Usuf, Pembantu Bendahara BKPSDM, yang turut berbincang santai sebelum perjalanan kembali dilanjutkan.
Sesampainya di kediaman H. Suriansyah di kawasan Jalan BKD, Desa Matabu, tepat di seberang Rumah Jabatan Bupati (Rujab) Tamiang Layang, pintu rumah dibukakan langsung oleh sang istri, Hj. Arbayati. Dengan ramah, ia mempersilakan seluruh tamu masuk ke ruang tamu sederhana yang malam itu terasa hangat oleh suasana kekeluargaan.
Pertemuan diawali dengan doa selamat yang dipimpin Sulaiman. Bagi dirinya, membaca doa saat bertamu bukan sekadar tradisi, melainkan ikhtiar memohon perlindungan dan keselamatan kepada Allah SWT.
“Mohon maaf Abang Haji Suriansyah ulun tidak bisa mengangkat telepon karena terkena stroke. Alhamdulillah ulun sudah mulai sehat. Makanya malam ini ulun menyempatkan diri untuk silaturahmi langsung ke sini. Mudah-mudahan p cepat pulih kembali dan mohon sama-sama kita saling mendoakan,” ucap Sulaiman lirih penuh hormat.
Percakapan kemudian mengalir hangat. Kenangan demi kenangan tentang perjalanan jurnalistik masa lalu kembali dihidupkan. Sesekali tawa kecil pecah di ruang tamu itu, seolah membawa mereka kembali pada masa-masa ketika tugas peliputan menjadi bagian dari perjuangan bersama.
Di sela obrolan, Hj. Arbayati turut mengenang pengalaman spiritualnya saat menunaikan ibadah ke Tanah Suci. Dengan mata berbinar, ia menceritakan suasana Makkah dan Madinah yang membekas di hati.
Tak lama kemudian, ia memandang Sulaiman sambil tersenyum.
“Kayanya Jaya ini ada ciri-cirinya untuk berangkat umrah, dilihat dari peci yang dikenakannya,” ujarnya disambut senyum hangat seluruh tamu.
Mendengar doa itu, Sulaiman hanya tersenyum kecil. Dengan penuh harap, ia mengamini ucapan tersebut dan berharap suatu hari nanti dapat menjejakkan kaki di Tanah Suci bersama rekan-rekannya.
“Mudahan ada jalan dan rezekinya. Kalau niat baik, mudah-mudahan semua rekan juga bisa ikut,” katanya.
Di tengah perbincangan, H. Suriansyah juga berbagi kisah pengalamannya saat menunaikan ibadah umrah. Meski sebelumnya membawa banyak obat-obatan karena kondisi kesehatan, ia mengaku justru merasa sehat selama berada di Tanah Suci.
“Obat-obatan yang saya bawa tidak saya minum. Di sana rasanya sehat, tidak ada penyakit,” tutur pria kelahiran 1953 itu dengan
wajah tenang.
Malam kian larut. Gerimis masih turun perlahan di luar rumah. Namun di dalam ruang tamu sederhana itu, hangat silaturahmi, doa, dan harapan terasa hidup.
Pertemuan malam itu bukan sekadar kunjungan biasa. Ia menjadi pengingat bahwa di tengah perjalanan hidup yang terus berubah, persaudaraan dan kepedulian tetap menjadi ikatan yang tak lekang oleh waktu. (***)
Sinar Barito Pemersatu Banua