Mengenal Diri Bemorobbi Kepada Ujud Yang Nyata

Penulis : Al-Faqir Ihsan (Sambialaw)

MARABAHAN, onlinesinarbarito.com – Sirene azan Asar berkumandang dari berbagai penjuru kampung, memecah keheningan sore dengan lantunan yang menyejukkan hati. Suara panggilan suci itu seakan mengiringi langkah sebuah perjalanan yang bukan sekadar menempuh jarak, melainkan meniti jalan pencarian makna kehidupan yang sesungguhnya.

Perjalanan dimulai dari Markas Sulaiman Komplek Batola Residence Blok H Site III Nomor 17, Handil Pinang II, RT 12, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Minggu (24/5/2026) sore.

Di bawah komando CEO PT Barito Media Jaya Group, Sulaiman A.S., yang akrab disapa M. Jaya, rombongan bergerak menuju sebuah majelis ilmu Mahabbaturrasul atau yang lebih dikenal dengan “Allam Larut” yang berada di Desa Samuda, Kecamatan Belawang, Kabupaten Barito Kuala.

Bagi sebagian orang, perjalanan hanyalah perpindahan dari satu tempat ke tempat lainnya. Namun bagi para pencari hikmah, setiap kilometer yang dilalui menyimpan pelajaran. Hamparan sawah yang membentang, pepohonan rindang yang berdiri kokoh di sepanjang jalan, hingga langit senja yang perlahan berubah warna, seolah menjadi saksi bisu perjalanan para musafir yang tengah mencari cahaya pengetahuan rohani.

Di tengah perjalanan, rombongan sempat berhenti sejenak untuk membeli jengkol yang nantinya akan disantap bersama jamaah. Kesederhanaan itu justru menghadirkan kehangatan tersendiri, memperlihatkan bahwa kebersamaan sering kali lahir dari hal-hal yang sederhana.

Deru mesin mobil kembali mengalun membelah jalanan desa. Semakin jauh perjalanan ditempuh, semakin kuat pula tekad rombongan untuk sampai ke tujuan. Tak ada rasa lelah yang berarti, karena tujuan utama perjalanan ini adalah menimba ilmu dan memperdalam pemahaman tentang hakikat pengenalan diri kepada Sang Pencipta.

Sesampainya di Majelis Mahabbaturrasul (Zikir dan Sholawat), suasana terlihat begitu hidup. Puluhan jamaah laki-laki dan perempuan tampak memadati kawasan majelis. Sebagian baru datang, sebagian lainnya bersiap meninggalkan lokasi setelah mengikuti rangkaian kegiatan keagamaan.

Di pintu masuk, rombongan disambut hangat oleh H. Sidik, yang lebih dikenal dengan panggilan Kancil. Sosok yang merupakan anak angkat dari Sohibul Majelis, TG KH Syarwani, itu menyambut para tamu dengan penuh keramahan, seakan kedatangan rombongan memang telah lama dinantikan.
Kehadiran Sulaiman, sapaan akrab M. Jaya, bukan sekadar untuk bersilaturahmi. Ia juga membawa buah tangan berupa keripik singkong yang dibagikan kepada jamaah sebagai bentuk kebersamaan dan penghormatan kepada para pencinta majelis ilmu.

Sebagai bentuk penghormatan dan kedekatan batin yang telah terjalin, Sohibul Majelis TG KH Syarwani atau yang akrab disapa Abah Isar menyerahkan tiga lembar sarung kepada Sulaiman A.S. Sarung tersebut kemudian dibagikan kembali oleh M. Jaya kepada anggota rombongan, di antaranya Jamhari dan Ihsan yang turut mendampingi perjalanan silaturahmi tersebut.

Dalam kesempatan itu, Abah Isar juga menyampaikan bahwa Sulaiman merupakan sosok yang telah dikenal oleh Sohibul Bait. Menurut beliau, kedekatan tersebut bukan sekadar ungkapan basa-basi atau pemanis dalam pergaulan. Abah Isar menggambarkan hubungan batin yang terjalin itu sebagai bentuk pengenalan yang lahir dari keberkahan majelis dan kecintaan kepada Allah SWT serta Rasulullah SAW.

Bahkan beliau menyebutkan, apa yang diminta Sulaiman insya Allah akan dikabulkan selama berada dalam perkara kebaikan.

Penyampaian itu disampaikan bukan untuk mengagungkan seseorang, melainkan sebagai bentuk kesaksian yang jujur atas kedekatan yang telah terjalin.

Menurut Abah Isar, seseorang yang telah mengenal Tuhannya dan mendapatkan kemuliaan dari Sohibul Bait akan memperoleh pertolongan dan keberkahan yang tidak dapat diukur dengan pandangan lahiriah semata.

Di dalam ruangan, tampak TG KH Sofwan yang turut mengisi kegiatan keagamaan malam itu. Wajah-wajah jamaah terlihat khusyuk mengikuti setiap rangkaian majelis, sementara lantunan zikir dan sholawat menggema lembut memenuhi ruangan.

Malam pun semakin larut. Hening perlahan menyelimuti suasana, menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk kehidupan dunia. Dalam suasana penuh kekhusyukan itulah, Sohibul Majelis TG KH Syarwani, yang akrab disapa Abah Isar, menyampaikan nasihat yang menggugah hati para jamaah.

Menurut beliau, kebanyakan manusia terlalu sibuk memikirkan kebutuhan jasad, tetapi sering melupakan kebutuhan rohani yang justru menjadi bekal utama dalam perjalanan menuju Allah SWT.

“Kita cuma memikirkan sarana kebutuhan jasad. Satu bulan atau dua bulan tidak bekerja saja sudah dipikirkan. Sedangkan makanan rohani sering dilalaikan. Padahal sarana untuk makanan rohani itu sangat penting, salah satunya melalui majelis ilmu,” ujar Abah Isar di hadapan jamaah.

Nasihat itu menggema dalam ruang kesadaran para hadirin. Bahwa manusia bukan hanya terdiri dari tubuh yang membutuhkan makan dan minum, tetapi juga ruh yang memerlukan santapan berupa ilmu, zikir, dan kedekatan kepada Allah SWT.

Lebih jauh, Abah Isar menjelaskan bahwa hakikat pengenalan diri tidak berhenti pada mengenal nama, jabatan, atau identitas lahiriah semata. Menurutnya, seseorang harus mengenal siapa yang menciptakan dirinya.

“Kenali diri jangan cuma nama. Apalah sebuah nama. Yang paling penting adalah mengenal Yang Maha Memberi nama,” tutur beliau.

Menjelang kepulangan rombongan, suasana kekeluargaan kembali terasa begitu hangat. Istri H. Sidik memberikan satu set perlengkapan dapur berupa belati dan beberapa pisau kepada Sulaiman A.S. sebagai buah tangan. Pemberian tersebut disampaikan dengan harapan agar peralatan itu dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga serta membantu berbagai aktivitas dapur, termasuk mengiris singkong yang selama ini kerap menjadi sajian kebersamaan dalam berbagai kegiatan silaturahmi dan majelis.

Pada kesempatan yang sama, suasana akrab juga terlihat ketika istri H. Sidik bersama istri Sambialaw, sapaan akrab Ihsan, membantu melakukan pemasangan kuku hias kepada putri Sulaiman. Momen sederhana itu menambah kesan hangat dalam pertemuan tersebut, sekaligus menunjukkan eratnya hubungan kekeluargaan yang terjalin antara keluarga majelis dan rombongan tamu.

Bagi rombongan, perhatian yang diberikan tuan rumah menjadi kenangan yang berkesan. Sebab, di balik kesederhanaannya tersimpan nilai-nilai persaudaraan, penghormatan kepada tamu, serta ketulusan yang menjadi ciri khas masyarakat Banjar dalam menjaga tali silaturahmi.

Kalimat sederhana itu seolah menjadi puncak dari perjalanan malam tersebut. Sebuah pengingat bahwa di balik segala aktivitas dunia, manusia pada akhirnya sedang menempuh perjalanan pulang menuju Tuhannya.

Perjalanan menuju Majelis Mahabbaturrasul malam itu bukan sekadar kunjungan biasa. Ia menjelma menjadi perjalanan batin yang mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya ditemukan dalam terpenuhinya kebutuhan jasmani, tetapi juga dalam hadirnya cahaya ilmu yang menerangi hati. Di tengah gelapnya malam Desa Samuda, para musafir pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar oleh-oleh perjalanan, yakni hikmah tentang pentingnya mengenal diri untuk mengenal Sang Pencipta. (***).